Tampilkan postingan dengan label Kebaya pengantin modern muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebaya pengantin modern muslim. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2015

KEBAYA TRADISIONAL DAN MODERN NUSANTARA

Kebaya Jawa, Wanita Jawa mengenakan kebaya pendek dengan tambahan bahan berbentuk persegi panjang di bagian penutup depan (bef). Berlengan panjang dengan bagian pergelangan tangan tidak terlalu lebar. Pemakaiannya dikombinasikan dengan sebuah batik berwiron yang ditempatkan disebelah kiri dengan cara melilitkan kain tersebut melingkari badan dari kiri ke kanan.

Sebenarnya asal mula bef adalah dari kemben yang dipakai di dalam kebaya. Dimana kebaya dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan. Tetapi karena kepraktisan dan estetis maka kemben sudah tidak dipakai lagi digantikan fungsinya dengan bef. Untuk pelengkapnya biasanya digunakan selendang batik. Di Yogyakarta dan di Solo kain dan kebaya dibuat dari bahan katun dengan motif khusus yang disebut lurik, atau dapat juga menggunakan bahan dengan warna yang berlainan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang motif pelangi dengan teknik ikat celup. Kain lurik dapat diganti menggunakan bahan gabardine yang bermotif kotak-kotak halus dengan kombinasi warna hijau tua dengan hitam, biru dengan hitam, biru dengan hitam, kuning tua dengan hitam, serta merah bata dengan hitam.

sumber: fb Kebaya Tradisional dan Modern Nusantara

Kolektor dan Pelestari Kebaya Indonesia

Kebaya sangat identik dengan Mien Uno. Koleksi kebaya miliknya, merupakan rancangan sejumlah desainer Indonesia. Beragam kebaya dari berbagai daerah di Tanah Air dimilikinya. Perempuan yang akrab disapa Mien itu mengaku sangat hobi dengan kebaya demi melestarikan budaya Indonesia. Dia juga mengatakan, warga negara asing sangat menyukai kebaya.

Itu dibuktikan dengan buku yang berjudul ’Kebayaku’ yang jadi koleksi di Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat. ”Orang asing bukan hanya tertarik dengan kebaya tapi juga budaya Indonesia,” kata Mien juga. Karena itu, dia berharap Kebaya jadi ikon Indonesia. Sama halnya dengan negara lain yang terkenal dengan busana tradisionalnya.

Semisal Jepang dengan baju Kimono, Tiongkok dengan cheongsam, Korea dengan baju hanbok, dan India dengan baju sarinya. ”Kebaya Indonesia dapat menjadi identitas bangsa. Hingga kini dikenal hingga luar negeri,” terangnya. Mien juga mengaku tidak hafal jumlah kebaya yang dikoleksinya.

”Semua kebaya itu asli rancangan desainer Indonesia. Bahkan ada pula perancangnya yang sudah tiada,” ujarnya juga. Mien mengaku koleksi busananya terbanyak dirancang oleh Ramli, Marga Alam, Edward Hutabarat, Didiet Maulana, Chossy Latu dan banyak lagi Mien juga menginginkan agar kebaya menjadi inspirasi banyak orang dan jadi ciri khas identitas bangsa Indonesia. ”Tampil dengan kebaya meskipun didesain modern tidak akan meninggalkan pakem,” ungkapnya juga.
Bercerita sedikit tentang bukunya ’Kebayaku”, Mien mengaku dalam buku itu ada sejarah kebaya. Kisah kebaya dari setiap generasi mulai yang tradisional hingga modern tertulis dalam buku tersebut. Selain itu memiliki beragam kebaya, Mien juga mengaku mengoleksi banyak kain tradisional.

Seperti kain batik, songket, tenun yang juga dirancang secara tradisional. Berbagai kain tradisional koleksinya itu berasal dari berbagai daerah. Seperti Jogjakarta, Pekalongan dan Garut. Mien memang aktif sejak 1970 dalam Himpunan Pecinta Kain Tenun dan Batik. Perempuan kelahiran Indramayu, 23 Mei 1941 itu juga memimpin Lembaga Pendi_dikan Duta Bangsa dan Yayasan Mien Uno. Selain giat tampil sebagai pembicara diberbagai dialog , Mien juga sukses meraih sejumlah penghargaan.

Diantaranya Top Executive Indonesia 1993, Indonesia Women of The Year 1995, Citra Abadi Pembangunan Nasional 1996 dan masih banyak lagi penghargaan lainnya. (*)
Sumber:  indopos. co. id